Tinutuan: bubur Manado yang penuh sayur dan tidak butuh daging
Labu kuning, ubi, kangkung, dan kemangi dalam satu mangkuk pagi yang hangat.
Kalau kamu membayangkan bubur sebagai makanan orang sakit, tinutuan akan mengubah pikiran itu. Bubur khas Manado ini warnanya kuning oranye dari labu, isinya padat sayur, dan dimakan orang sehat setiap pagi sebagai sarapan yang serius.
Dasarnya beras yang dimasak sampai hancur bersama labu kuning dan ubi atau singkong. Setelah lembut, masuk sayuran hijau: kangkung, bayam, dan daun gedi yang membuat teksturnya sedikit licin. Jagung pipil kadang ikut. Yang terakhir masuk adalah kemangi, dalam jumlah yang tidak malu-malu, sehingga aromanya terasa sebelum sendok pertama.
Baca juga: Mie Aceh: pedas berempah, dimakan dengan emping dan acar bawang
Pelengkap yang membuatnya lengkap
Tinutuan sendiri rasanya lembut dan hampir manis. Yang membuatnya hidup adalah pelengkapnya: ikan cakalang fufu yang disuwir, perkedel jagung, ikan asin goreng, dan sambal roa yang pedas dan berasap. Sebagian orang menyiramnya dengan kecap, sebagian menolak keras. Di Manado, tinutuan sering dijual bersama mi, dan pesanan campuran bubur dan mi dalam satu mangkuk itu disebut midal.
Oktober begini, pagi di Manado masih sering cerah sebelum hujan sore datang. Bubur hangat dengan sambal roa di pagi seperti itu rasanya pas. Kalau kamu ke sana, cari warung yang bubur dan pelengkapnya dipajang terpisah, lalu ambil pelengkap sesuka hati. Tidak ada aturan selain satu: kemanginya jangan dikurangi.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.