Kerupuk: pelengkap yang kalau tidak ada, meja makan terasa salah
Bunyi renyah sebagai bagian dari makan.

Ada makanan yang tidak pernah menjadi hidangan utama tetapi kehadirannya terasa wajib. Kerupuk adalah contoh paling jelas. Ia tidak mengenyangkan, tidak bergizi istimewa, dan seringnya tidak dihitung sebagai lauk. Tetapi coba sajikan soto, nasi goreng, atau gado-gado tanpa kerupuk. Ada yang terasa kurang, dan yang kurang itu adalah bunyinya.
Jenisnya sangat banyak. Kerupuk udang dari Sidoarjo dan Cirebon yang lebar dan gurih. Kerupuk ikan dari Palembang dan Bangka. Kerupuk kulit atau rambak dari Jawa dan Sumatera Barat. Kerupuk aci atau kerupuk putih bulat yang ada di hampir semua warung, digantung dalam kaleng besar bertutup atau toples plastik. Kerupuk mi kuning yang biasa menemani ketoprak dan asinan Betawi. Emping melinjo yang pahit tipis. Rengginang dari ketan yang keras dan wangi.
Baca juga: Toples kue Lebaran: nastar, kastengel, dan urutan tak tertulis di meja tamu
Kaleng kerupuk di warung punya aturannya sendiri. Ambil sendiri, hitung sendiri, dan bayar di akhir. Sama seperti di angkringan, sistem ini bertahan karena kejujuran lebih murah daripada rasa malu. Kaleng itu biasanya diberi logo merek biskuit lama, dan tutupnya diganjal supaya kerupuk tetap renyah di udara lembap.
Cara makannya pun punya aliran. Ada yang meremukkan kerupuk ke dalam kuah soto sampai lembek. Ada yang menyimpannya di piring tersendiri agar tetap renyah sampai suapan terakhir. Ada yang menjadikannya sendok untuk menyendok nasi. Semua benar.
Di rumah, kerupuk mentah yang dijemur di halaman lalu digoreng dalam minyak panas banyak adalah pelajaran memasak pertama banyak anak. Melihat lempengan keras itu mekar dalam hitungan detik tidak pernah membosankan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.