Toples kue Lebaran: nastar, kastengel, dan urutan tak tertulis di meja tamu
Kue kering sebagai bahasa sambutan.
Seminggu sebelum Lebaran, dapur-dapur di seluruh Indonesia berbau mentega. Loyang keluar dari lemari, oven dinyalakan berhari-hari, dan toples kaca yang setahun disimpan dicuci bersih. Kue kering Lebaran bukan sekadar camilan. Ia adalah cara rumah menyapa tamunya sebelum tuan rumah sempat bicara.
Nastar hampir selalu ada. Bulatan kecil berisi selai nanas, dioles kuning telur sampai mengilap, kadang diberi cengkih di atasnya. Kastengel, batang pendek bertabur keju yang gurih, menjadi penyeimbang bagi yang tidak suka manis. Putri salju bertabur gula halus, lidah kucing yang tipis, dan sagu keju yang lumer di mulut melengkapi barisan. Setiap keluarga punya satu kue tambahan yang hanya mereka yang membuatnya, warisan dari nenek atau tetangga lama.
Baca juga: Musim durian: mengapa buah yang jatuh sendiri lebih dihargai daripada yang dipetik
Ada tatanan yang tidak pernah tertulis di meja tamu. Toples berjajar di meja ruang tamu, biasanya dalam jumlah ganjil, dengan nastar di tengah. Tamu yang datang dipersilakan mencicipi, dan dianggap sopan kalau mengambil satu atau dua, bukan menghabiskan satu toples. Anak-anak diberi kelonggaran. Tuan rumah yang toplesnya cepat kosong dianggap beruntung, karena artinya banyak yang datang.
Ada pula percakapan yang selalu berulang: siapa yang membuat kuenya, apakah dibeli, dan resep siapa yang dipakai. Jawaban buatan sendiri masih dianggap pujian tertinggi, walaupun membeli dari tetangga yang pandai membuat kue sudah lama diterima dan bahkan menopang usaha kecil banyak ibu rumah tangga.
Lebaran tahun ini jatuh beberapa hari lagi. Kalau kamu bertamu, perhatikan toplesnya. Di dalamnya ada cerita tentang keluarga itu, dan sedikit mentega.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.