Gudeg: manisnya Yogyakarta yang tidak perlu dimaafkan
Nangka muda dimasak semalaman dengan gula jawa dan santan, lalu dibela mati-matian oleh orang Jogja.

Hampir setiap orang yang pertama kali makan gudeg mengucapkan kalimat yang sama: manis sekali. Lalu mereka terbelah dua. Ada yang tidak mau lagi, ada yang kembali keesokan harinya. Gudeg adalah hidangan yang tidak berusaha menyenangkan semua orang, dan justru di situ letak pesonanya.
Bahan utamanya nangka muda yang dipotong dan direbus lama sekali, berjam-jam, dengan santan, gula jawa, bawang, ketumbar, lengkuas, daun salam, dan daun jati yang memberi warna cokelat kemerahan. Lamanya memasak membuat nangka menjadi lembut dan menyerap semua rasa. Gudeg biasanya disajikan dengan sambal krecek dari kulit sapi yang pedas, telur pindang cokelat, tahu atau tempe bacem, dan areh, santan kental yang gurih.
Baca juga: Mendoan Banyumas: tempe yang sengaja diangkat sebelum matang
Basah atau kering
Ada dua gaya utama. Gudeg basah berkuah santan, lebih lembut, dan biasanya dimakan di tempat. Gudeg kering dimasak lebih lama sampai kuahnya nyaris habis, warnanya lebih gelap, dan tahan lebih lama, sehingga sering dibawa sebagai oleh-oleh dalam besek atau kendil tanah liat. Keduanya enak; yang membedakan hanya selera dan rencana perjalananmu.
Cara terbaik menikmatinya adalah memahami bahwa manis gudeg dirancang untuk dilawan oleh sambal krecek yang pedas dan telur yang gurih. Jangan makan nangkanya sendirian. Ambil nasi, sedikit gudeg, krecek yang cukup, dan santap bersamaan. Keseimbangan itu yang orang Jogja maksud saat mereka bilang gudeg itu enak.
Di akhir tahun yang berhujan ini, gudeg hangat di pagi hari terasa seperti cara kota itu menenangkan tamunya.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.