Mendoan Banyumas: tempe yang sengaja diangkat sebelum matang
Lembek itu bukan kesalahan, itu intinya.
Banyak orang di luar Banyumas mengira mendoan adalah tempe goreng tepung yang kurang matang. Sebenarnya memang begitu, dan itulah yang disengaja. Kata mendo dalam bahasa setempat berarti setengah matang atau lembek. Mendoan yang benar diangkat saat tepungnya baru saja mengeras di luar tetapi masih lunak dan berminyak di dalam, dengan tempe yang masih lembut.
Tempenya pun bukan tempe sembarangan. Tempe untuk mendoan dibuat tipis dan lebar, dibungkus daun pisang per lembar, sehingga saat dicelup ke adonan tepung ia tidak tenggelam. Adonannya dari tepung terigu dan sedikit tepung beras, dibumbui bawang putih, ketumbar, dan kunyit, lalu diberi irisan daun bawang yang banyak. Daun bawang ini yang memberi aroma khas saat mendoan baru diangkat dari wajan.
Baca juga: Pempek dan cuko: rahasia Palembang ada di kuahnya, bukan di ikannya
Pelengkapnya sederhana: cabai rawit hijau yang digigit langsung, atau sambal kecap dengan irisan cabai dan bawang merah. Mendoan dimakan panas, selagi lembek. Kalau sudah dingin, ia berubah menjadi makanan lain yang tidak sebaik aslinya.
Di Purwokerto dan sekitarnya, mendoan ada di mana-mana: di warung pinggir jalan, di stasiun, di meja tamu saat ada hajatan. Ia hadir sebagai teman minum teh sore, sebagai lauk nasi, atau sebagai camilan saat hujan mulai sering turun seperti sekarang.
Kalau kamu lewat Banyumas, cobalah membeli mendoan yang digoreng di depan mata dan dimakan dalam lima menit pertama. Setelah itu kamu akan paham bahwa gorengan tidak selalu harus renyah untuk menjadi benar.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.