Ruteng, kota dingin di tengah Flores: kabut pagi, sawah jaring laba-laba, dan katedral di ujung jalan
Ibu kota Manggarai ini jarang dijadikan tujuan, padahal ia tempat terbaik untuk memahami pegunungan Flores.

Kebanyakan orang melewati Ruteng. Ia singgah dalam perjalanan darat dari Labuan Bajo ke Bajawa atau Ende, kota tempat bus dan mobil travel berhenti makan siang sebelum melanjutkan jalur berkelok Trans Flores. Padahal Ruteng layak diberi dua malam. Terletak di ketinggian di antara punggung pegunungan Manggarai, kota ini sejuk sepanjang tahun, berkabut di pagi hari, dan dikelilingi sawah serta kebun kopi yang bisa dicapai dengan berjalan kaki atau ojek singkat.
Pagi di kota
Ruteng paling baik dimulai sebelum matahari menghangat. Pasar kota ramai sejak subuh dengan sayur dataran tinggi, kopi bubuk dari kebun sekitar, dan kain tenun songke bermotif hitam dengan sulaman berwarna yang dipakai orang Manggarai. Dari pasar, jalan utama yang lurus menuju katedral kota yang menjulang, dan sepanjang jalan itu rumah-rumah berarsitektur kolonial bertengger di antara ruko. Kota ini pernah menjadi pusat misi Katolik di Flores barat, dan jejaknya terasa dalam biara, sekolah, dan lonceng gereja yang berbunyi di pagi hari.
Udara dinginnya menuntut sarapan yang hangat. Di sepanjang jalan, warung menjual sup, nasi dengan ikan kuah, dan kopi yang dituang dari teko besar; di dataran tinggi ini kopi diminum tanpa basa-basi.
Lingko, sawah berbentuk jaring laba-laba
Pemandangan yang membawa orang ke Ruteng berada di Cancar, desa di sebelah barat kota. Dari bukit kecil di sisi jalan, sawah terlihat berbentuk lingkaran yang terbagi seperti jaring laba-laba. Ini adalah lingko, sistem pembagian tanah adat Manggarai: setiap keluarga memperoleh sebidang berbentuk irisan yang memancar dari titik tengah, dan lebar irisan ditentukan oleh kedudukan dalam kampung. Bentuknya paling jelas saat sawah baru ditanami atau setelah panen, ketika garis pematangnya tampak kontras.
Kampung adat dan jalan pulang
Beberapa jam dari kota terdapat kampung adat Wae Rebo dengan rumah kerucutnya yang terkenal, yang mensyaratkan pendakian panjang dan menginap semalam. Tetapi tidak semua orang perlu ke sana untuk melihat rumah Manggarai. Ruteng Pu'u, kampung adat di tepi kota, mempertahankan rumah adat beratap tinggi dan compang, altar batu di tengah kampung, dalam jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat kota.
Sore di Ruteng turun cepat. Kabut kembali dari gunung, dan kota yang siangnya ramai menjadi sunyi sebelum malam. Di saat itulah orang mengerti mengapa kota ini layak dijadikan tujuan, bukan sekadar persinggahan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.